Di era digital, keadilan tidak lagi hanya berlangsung di ruang sidang. Ia juga muncul di linimasa, dalam bentuk opini, komentar, dan reaksi publik yang berkembang dengan cepat.
Sebuah kasus dapat menjadi viral dalam hitungan jam. Dalam kondisi tersebut, publik tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut membentuk narasi. Fenomena inilah yang dikenal sebagai viral justice.
Apa Itu Viral dalam Konteks Sosial?
Viral bukan sekadar tentang popularitas. Dalam konteks sosial, viral adalah percepatan distribusi perhatian.
Ketika suatu isu menjadi viral, informasi menyebar secara luas, perhatian publik terpusat, dan tekanan sosial terhadap pihak terkait meningkat.
Dalam praktiknya, viral menciptakan urgensi. Isu yang sebelumnya tidak mendapat perhatian dapat tiba tiba menjadi prioritas karena sorotan publik.
Baca Juga: Konsekuensi Hukum Memviralkan Bukti Perselingkuhan di Media Sosial
Apa Itu Justice dalam Perspektif Hukum?
Berbeda dengan viral, keadilan dalam hukum tidak dibentuk oleh kecepatan, melainkan oleh proses.
Keadilan mensyaratkan pemeriksaan fakta, pembuktian yang sah, penilaian yang objektif, serta putusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam sistem hukum, keadilan tidak ditentukan oleh opini yang paling banyak, tetapi oleh fakta yang terbukti.
Ketika Sistem Tidak Selalu Berjalan Ideal
Dalam praktiknya, sistem hukum tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.
Terdapat situasi di mana laporan tidak segera ditindaklanjuti, proses berjalan lambat, atau bahkan terjadi penyalahgunaan kewenangan.
Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan publik dapat menurun, dan media sosial sering menjadi ruang alternatif untuk mencari perhatian dan keadilan.
Ketika Viral Bertemu dengan Justice
Viral justice muncul ketika kebutuhan akan keadilan bertemu dengan keterbatasan dalam praktik penegakan hukum.
Di satu sisi, viral dapat membantu keadilan. Banyak kasus yang sebelumnya terabaikan menjadi diperhatikan, aparat terdorong untuk bertindak, dan praktik yang tidak transparan menjadi terbuka.
Dalam konteks ini, viral berfungsi sebagai kontrol sosial.
Namun di sisi lain, viral bukanlah kebenaran. Informasi yang beredar bisa tidak lengkap, bias, atau bahkan keliru.
Ketika hal ini terjadi, seseorang dapat dihakimi sebelum proses hukum berjalan. Di titik ini, viral justru berpotensi menjauhkan dari keadilan.
Dasar Hukum yang Menjadi Batas
Asas Praduga Tak Bersalah
Setiap orang dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Kitab Undang Undang Hukum Acara Pidana
Setiap perkara harus melalui proses hukum yang sah dan terstruktur.
Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik
Melarang penyebaran informasi yang tidak benar atau merugikan pihak lain.
Kitab Undang Undang Hukum Pidana
Mengatur perbuatan seperti fitnah dan pencemaran nama baik.
Baca Juga: Pemerintah Batasi Akses Media Sosial dan Game bagi Anak, Komdigi Terapkan Aturan Baru Mulai 2026
Dua Sisi yang Harus Dipahami
Viral justice memiliki dua sisi yang tidak dapat dipisahkan.
- Membantu membuka akses keadilan dan mendorong akuntabilitas
- Berpotensi menyesatkan dan merusak reputasi tanpa dasar
Sikap yang Tepat di Era Viral
Yang dibutuhkan bukan menolak viral, tetapi menggunakannya secara tepat.
- Gunakan media sosial untuk mendorong transparansi, bukan menghakimi
- Pastikan informasi memiliki dasar yang jelas
- Hindari kesimpulan prematur
- Hormati proses hukum yang berjalan
Viral menciptakan perhatian, sementara hukum menciptakan kepastian.
Ketika sistem tidak berjalan ideal, viral dapat menjadi pengingat. Namun tanpa kendali, viral juga dapat menjadi sumber ketidakadilan.
Keadilan harus tetap ditegakkan melalui proses yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.