• Artikel
  • Topik Hukum
    • Perusahaan & Bisnis
    • Pertanahan & Properti
    • Keluarga
    • HAKI
    • Pidana
    • Perdata
  • Tentang Kami
Membaca Perusahaan Pailit, Direksi Bertanggung Jawab? Ini Aturan Hukumnya
Konsultasi
Font ResizerAa
  • Bisnis
  • Perusahaan
  • Keluarga
  • Pidana
  • Perdata
  • Pertanahan
Search
  • Blog
  • Tentang Kami
  • Kontak
Ikuti Kami
  • Konsultasi Hukum
  • Legal HeroBaru
  • Toko Hukum
  • Hukumku Bisnis
  • Gabung Jadi Mitra
Copyright © 2026 PT. Teknologi Legal Bersama
General

Perusahaan Pailit, Direksi Bertanggung Jawab? Ini Aturan Hukumnya

hukumku
By Tim Penulis
Terakhir Diperbarui Juli 25, 2025
4 Menit Baca
Bagikan

Ketika sebuah perusahaan mengalami pailit, banyak yang bertanya-tanya: apakah direksi dapat dimintai pertanggungjawaban atas kerugian atau kegagalan tersebut? Pertanyaan ini penting, karena posisi direksi memiliki peran strategis dalam mengelola perusahaan. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap mengenai tanggung jawab direksi dalam konteks kepailitan berdasarkan hukum Indonesia.

Pengertian Pailit

Pailit adalah keadaan di mana debitur tidak mampu membayar utang-utangnya yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih. Dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), dijelaskan bahwa:

Daftar Isi
  • Pengertian Pailit
  • Peran dan Tanggung Jawab Direksi dalam Perusahaan
  • Apakah Direksi Bisa Dimintai Pertanggungjawaban?
  • Perlindungan Hukum bagi Direksi
  • Contoh Kasus di Indonesia
  • Implikasi Hukum
  • Pencegahan dan Mitigasi Risiko
  • Konsultasi dan Pendampingan Hukum

“Debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan.”

Peran dan Tanggung Jawab Direksi dalam Perusahaan

Direksi adalah organ perusahaan yang bertugas menjalankan pengurusan sehari-hari. Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), Pasal 92 ayat (1) menyatakan bahwa:

“Direksi menjalankan pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan.”

Artinya, direksi wajib bertindak penuh itikad baik dan penuh tanggung jawab.

Apakah Direksi Bisa Dimintai Pertanggungjawaban?

Direksi dapat dimintai pertanggungjawaban dalam beberapa kondisi berikut:

1. Tindakan Melawan Hukum

Jika terbukti melakukan tindakan melawan hukum yang merugikan perusahaan dan kreditor, direksi bisa dimintai tanggung jawab secara pribadi (Pasal 97 ayat (3) UUPT).

Baca Juga

direksi dengan 51% saham
Pengaruh Kepemilikan Saham 51 Persen: Kekuatan Pengendali dan Dampaknya dalam Struktur Perusahaan
Pentingnya Majority Vote Kreditur dalam Proses Pengajuan PKPU & Kepailitan
Pentingnya Majority Vote Kreditur dalam Proses Pengajuan PKPU & Kepailitan
peran in-house counsel
PKPU: Antara Penyelamatan Usaha dan Senjata Negosiasi Kreditur

2. Kelalaian atau Salah Urus

Jika perusahaan pailit akibat kelalaian direksi dalam menjalankan fungsi manajerial, maka mereka bisa digugat atas dasar wanprestasi atau perbuatan melawan hukum.

3. Tidak Membukukan dan Menyimpan Dokumen

Pasal 67 UUPT mewajibkan direksi untuk menyimpan dokumen dan laporan keuangan. Jika tidak dilakukan dan perusahaan pailit, direksi dapat dimintai pertanggungjawaban.

4. Perluasan Pertanggungjawaban (Piercing the Corporate Veil)

Dalam kasus tertentu, pengadilan dapat menembus badan hukum perseroan untuk membebankan tanggung jawab kepada direksi secara pribadi, apabila ditemukan adanya:

  • Penyalahgunaan badan hukum untuk kepentingan pribadi
  • Penipuan terhadap kreditor

Perlindungan Hukum bagi Direksi

Namun tidak semua direksi dapat langsung dianggap bertanggung jawab. Ada beberapa pembelaan yang dapat digunakan, antara lain:

  • Telah menjalankan tugas sesuai prinsip kehati-hatian
  • Telah mengungkapkan ketidaksepakatan secara tertulis dalam rapat direksi
  • Tidak terlibat langsung dalam tindakan yang menyebabkan kerugian

Contoh Kasus di Indonesia

Dalam beberapa putusan pengadilan, tanggung jawab direksi dalam kasus pailit pernah diuji. Salah satunya adalah:

Putusan Mahkamah Agung No. 85 K/Pdt.Sus/2006
Mahkamah menyatakan direksi bertanggung jawab secara pribadi karena lalai membayar utang perusahaan padahal mengetahui kondisi keuangan sudah tidak sehat.

Implikasi Hukum

Jika direksi terbukti bersalah:

  • Bisa digugat secara perdata oleh kreditor
  • Bisa dikenakan sanksi pidana jika terdapat unsur penipuan atau penggelapan
  • Dapat dikenakan pembatasan sebagai pengurus perusahaan lainnya di masa depan

Pencegahan dan Mitigasi Risiko

Agar tidak terjerat tanggung jawab hukum saat perusahaan menghadapi pailit, direksi dapat mengambil langkah-langkah berikut:

  • Menjaga transparansi laporan keuangan
  • Melakukan evaluasi risiko bisnis secara berkala
  • Menghindari pengambilan keputusan tanpa dasar hukum
  • Melibatkan penasihat hukum dalam transaksi penting

Konsultasi dan Pendampingan Hukum

Bagi perusahaan yang menghadapi ancaman pailit atau sudah berada dalam proses kepailitan, penting untuk segera mendapatkan pendampingan hukum yang tepat.

Hukumku menyediakan layanan lengkap mulai dari konsultasi hukum, analisis risiko kepailitan, hingga pendampingan selama proses pengadilan. Dengan dukungan dari tim advokat profesional, Hukumku memastikan Anda mendapat perlindungan hukum terbaik dalam menghadapi proses yang kompleks dan sensitif ini.

TAGGED:Hukum Perusahaan
Bagikan Artikel Ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Copy Link
FacebookLike
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
LinkedInFollow
Artikel Terbaru
peradi sai x hukumku
Hukumku Resmi Gandeng PERADI SAI, Perkuat Digitalisasi Layanan dan Kompetensi Advokat
Januari 22, 2026
direksi dengan 51% saham
Pengaruh Kepemilikan Saham 51 Persen: Kekuatan Pengendali dan Dampaknya dalam Struktur Perusahaan
Januari 22, 2026
Pentingnya Majority Vote Kreditur dalam Proses Pengajuan PKPU & Kepailitan
Pentingnya Majority Vote Kreditur dalam Proses Pengajuan PKPU & Kepailitan
Januari 20, 2026
Tampilkan Lebih

Artikel Terkait

Registered Foreign Architect RFA
General

Registered Foreign Architect (RFA) di Indonesia: Panduan Lengkap untuk Arsitek Asing

6 Menit Baca
insider trading
General

Menelisik Praktik Insider Trading dan Implikasinya terhadap Tanggung Jawab Manajemen

5 Menit Baca
prinsip separate legal entity dalam hukum korporasi
General

Prinsip Separate Legal Entity dalam Hukum Korporasi Indonesia

4 Menit Baca
General

Perbedaan Pasar Modal Konvensional dan Syariah

5 Menit Baca

Langganan Artikel Terbaru

Dapatkan informasi seputar hukum terkini langsung dari genggaman Anda.

Alamat:
The Kuningan Place IMO 1&2
Jl. Kuningan Utama Lot 15.
Jakarta Selatan, 12960.

Kontak:
+62 831-8797-0175
hello@hukumku.id

Topik Populer

  • Hukum Keluarga
  • Hukum Ketenagakerjaan
  • Hukum Bisnis
  • Hukum Perusahaan
  • Hukum Agraria

Produk

  • Konsultasi Hukum
  • Legal HeroBaru
  • Toko Hukum
  • Hukumku Bisnis
  • Gabung Jadi Mitra

Punya masalah hukum?

Ceritakan permasalahan hukum Anda bersama kami.
Hubungi Kami

Hukumku adalah platform konsultasi hukum online terpercaya yang menghubungkan pengguna dengan mitra advokat profesional di seluruh Indonesia. Dapatkan solusi hukum cepat dan praktis, mulai dari konsultasi via chat, pembuatan dokumen, hingga pendampingan sengketa untuk individu maupun bisnis.

© 2025 PT. Teknologi Legal Bersama

  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan

Hukumku adalah platform konsultasi hukum online terpercaya yang menghubungkan pengguna dengan mitra advokat profesional di seluruh Indonesia. Dapatkan solusi hukum cepat dan praktis, mulai dari konsultasi via chat, pembuatan dokumen, hingga pendampingan sengketa untuk individu maupun bisnis.

© 2025 PT. Teknologi Legal Bersama

  • Kebijakan Privasi
  • Syarat & Ketentuan
hukumku

Hukumku

Tim Hukumku

Hukumku

Halo, Ceritakan kebutuhan hukum Anda bersama kami.

Powered by Elementor

Chat Sekarang
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?